Aku Anak Pancasila

31 Maret 2019 berkumpulah 250 anak-anak lintas agama untuk mengadakan outbond. Kegiatan tersebut dilaksanakan di Desa Blimbing kecamatan Boja Kabupaten Kendal. Tema outbond anak lintas agama ini bertema “Aku Anak Pancasila.”  Dharu Setyoaji Wicaksono menjelaskan
maksud dan tujuan kegiatan tersebut. Dharu mengatakan,” Kegiatan outbond anak lintas agama ini merupakan rangkaian kegiatan persiapan komuni pertama bagi anak-anak Katolik yang sudah berusia 9 tahun. Selain membekali anak-anak mengenai pemahaman ajaran-ajaran iman Katolik khususnya sakramen ekaristi dan komuni,para pendamping juga memberikan edukasi tentang perlunya toleransi sejak dini dengan memberikan kesadaran mengenai praktek praktek hidup berbangsa dan bernegara kepada anak anak terutama terkait nilai nilai  Pancasila.”
 
Dalam kegiatan outbond lintas agama tersebut, anak-anak diajak berjalan lintas alam menyusuri pematang sawah, menyeberangi sungai dan menabur benih ikan dan “ciblon” atau bermain air di saluran irigasi. Anak-anak juga diajak gembira bersama melalui permainan dinamika kelompok. Sejak awal anak-anak dibagi dalam kelompok-kelompok yang terdiri anak-anak yang berbeda agama agar dapat berinteraksi. Melalui berbagai aktivitas tersebut,anak-anak belajar bagaimana hidup bersama saling berdampingan. 
 
Roman siswa kelas 4 SD Kanisius Kurmosari,”Aku senang bisa mengikuti kegiatan outbond anak lintas agama.Aku bisa bermain bersama dengan teman-teman dari berbagai agama.Aku gembira jadi anak Indonesia.” Sambil berdiri,Roman berpekik,”Aku Anak Pancasila.”
 
 
Kegiatan outbond semakin meriah karena para remaja Orang Muda Katolik Stasi St Petrus Krisologus, Remaja Masjid Al Ishlah, Vihara Vajra Bumi Satya Darma Viriya,remaja Gereja Isa Almasih ikut terlibat mendampingi adik-adiknya.
 
Turut hadir dalam acara tersebut Setyawan Budi,Siti Rofiah dari komunitas Persaudaraan Lintas Agama (PELITA) Kota Semarang,Rm Maryono SJ selaku Romo Paroki St Yusuf Gedangan dan Rm Eduardus Didik Chahyono SJ,Pastor Paroki St Theresia sekaligus Ketua Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang menyambut positif kegiatan outbond anak lintas agama.Rm Didik SJ menyatakan,” Saya senang melihat anak-anak dapat merasakan bahagia hidup bersama,saling berdampingan,bermain,bersendaugurau dengan teman-temannya yang berbeda agama.Kita patut berbangga hidup di Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berlandaskan Pancasila.Suasana yang baik ini harus dijaga dan dirawat oleh semua lapisan generasi masyarakat Indonesia,termasuk anak-anak.Semoga kegiatan persiapan komuni pertama ini dapat membantu anak semakin hormat pada sakramen ekaristi dan menghayati ajaran kasih Kristus dalam hidup sehari-hari bersama teman-teman lintas agama dan menjaga lingkungan hidup.”

Misa Hari Ulang Tahun Pernikahan

Penyegaran Janji Sehidup Semati

Misa HUP kali ini dikemas dengan kreatif. Penambahan tata cahaya, tata musik, dan memberikan nuansa berbeda dan menebalkan cita rasa keindahan pada jalannya tata perayaan ekaristi.

Boediharto berbaju merah berjalan agak tertatih menuju pintu masuk gereja. Sementara itu, perempuan yang sudah agak memutih rambutnya, menuntun di sebelahnya. Sore itu, Sabtu, 16 Februari 2018, pukul 17.30 wib, langit begitu terang,. Seakan mendung lupa memenuhi janji bertemu dengan hujan di atas Gereja St. Theresia Bongsari, Semarang.

Lelaki dan perempuan itu bernama Yosef Bonivasius Boediharto dan Maria Magdalena Siti Doemilah. Senyum sering kali  menghiasi langkah-langkah kecil menuju ke tempat duduk . Keduanya serasa menjadi penganten baru. Pasangan ini memang berniat menjadi “pengantin baru” lagi. Boediharto dan Siti Doemilah hendak  menyegarkan kembali janji perkawinan setelah pertama kali mengucapkannya pada 1964, atau 54 tahun yang lalu. Niat sehidup semati hendak digosok dan  dipoles lagi supaya tetap mengkilap dan memancarkan keindahannya. Ada 30 pasangan peserta misa HUP ini. Semuanya berulang tahun pernikahan antara bulan Agustus sampai dengan Januari.

Misa HUP kali ini dikemas dengan kreatif. Penambahan tata cahaya, tata musik, dan drama di saat misa HUP memberikan nuansa berbeda dan menebalkan cita rasa keindahan pada jalannya tata perayaan ekaristi. Dengan paduan yang pas dan apik antara cahaya, musik dan drama harapannya tercipta suasana yang memungkinkan setiap umat yang hadir di Misa HUP merenungkan lebih dalam tentang perjalanan perkawinannya. Selanjutnya, buah yang diharapkan adalah kesegaran baru memandang segala bentuk jalan yang sudah dilalui, terutama jalan yang biasa disebut terjal, berkelok, dan licin.

Di dalam khotbahnya, Romo Eduardus Didik Cahyono SJ mengundang perwakilan pasangan untuk sharing pengalaman. Ada satu yang mengesan dan menarik diangkat dalam dialog antara Romo dengan umat saat khotbah. Salah satu pasangan mengatakan, bahwa cinta itu memang bukan hadiah yang tida-tiba ada dan diberikan, melainkan usaha untuk terus menerus mengembangkan dan merawatnya. 

Perayaan Misa HUP benar-benar menjadi perayaan. Sebuah pesta iman yang mengedepankan keberanian dan keterbukaan merasakan cinta. Dari rasa cinta itulah, yang kemudian dibagikan dan dipancarkan sekuat dan sesering mungkin.

Pancaran cinta ini, diwujudkan dengan pesta bersama di halaman gereja. Pesta sederhana dengan ditemani alunan musik keroncong. Pesta  di halaman gereja mengangkat bentuk “Festival Rakyat”. Tema ini menghadirkan suasana santai, ringan, penuh obrolan, guyonan dan kehangatan khas pesta rakyat. Hidangan bakso, nasi ayam, wedang ronde, dan kacang rebus serta pisang rebus menegaskan bahwa inilah suasana yang dialami setiap pasangan kala berpacaran. Memang, keinginan panitia menghadirkan kembali  memori saat pacaran, sebuah kenangan kala setiap pasangan melihat keindahan di mana saja.

Setiap bara harus dijaga, setiap rasa cinta perlu dirawat. Beginilah cara Gereja St. Theresia Bongsari Semarang mengajak setiap umatnya untuk terus menyegarkan komitmen dan janji yang sudah diucapkan kala menikah dulu. Untuk tahun 2019 ini, Lingkungan Paulus Miki menjadi panitia Misa HUP. Dukungan penuh didapatkan dari Lingkungan Petrus Kanisius, Lingkungan Fransiscus Borgias dan Lingkungan Yohanes Berchman. Tentunya dukungan penuh pula dari Dewan Harian Paroki Santa Theresia Bongsari.

(Nara/2019)

Peringatan Hari Orang Sakit Sedunia 2019

Peringatan Hari Orang Sakit Sedunia 2019 diadakah pada Sabtu, 9 Februari pkl. 08.00 di Gereja Santa Theresia. Ekaristi dipimpin oleh Rm. Sudarmadi, Pr, didampingi Rm. Melky, S.J. Lebih dari 200 orang, kebanyakan lansia menerima pengurapan minyak suci pada hari tersebut.

Setelah Ekaristi, umat menikmati bubur yang disediakan dewan paroki di teras samping Gereja.

 Sementara itu, Romo Melky bersama Dr. Christin dan tim dari Yayasan Sosial Soegijapranata serta perwakilan dewan paroki keliling ke beberapa tempat untuk mengunjungi umat yang sudah susah untuk beraktivitas. Kepada mereka diberikan pengurapan minyak suci dan komuni. Dr. Christin dan tim memeriksa kesehatan mereka dan memberi pengobatan yang diperlukan.