Penyegaran Janji Sehidup Semati

Misa HUP kali ini dikemas dengan kreatif. Penambahan tata cahaya, tata musik, dan memberikan nuansa berbeda dan menebalkan cita rasa keindahan pada jalannya tata perayaan ekaristi.

Boediharto berbaju merah berjalan agak tertatih menuju pintu masuk gereja. Sementara itu, perempuan yang sudah agak memutih rambutnya, menuntun di sebelahnya. Sore itu, Sabtu, 16 Februari 2018, pukul 17.30 wib, langit begitu terang,. Seakan mendung lupa memenuhi janji bertemu dengan hujan di atas Gereja St. Theresia Bongsari, Semarang.

Lelaki dan perempuan itu bernama Yosef Bonivasius Boediharto dan Maria Magdalena Siti Doemilah. Senyum sering kali  menghiasi langkah-langkah kecil menuju ke tempat duduk . Keduanya serasa menjadi penganten baru. Pasangan ini memang berniat menjadi “pengantin baru” lagi. Boediharto dan Siti Doemilah hendak  menyegarkan kembali janji perkawinan setelah pertama kali mengucapkannya pada 1964, atau 54 tahun yang lalu. Niat sehidup semati hendak digosok dan  dipoles lagi supaya tetap mengkilap dan memancarkan keindahannya. Ada 30 pasangan peserta misa HUP ini. Semuanya berulang tahun pernikahan antara bulan Agustus sampai dengan Januari.

Misa HUP kali ini dikemas dengan kreatif. Penambahan tata cahaya, tata musik, dan drama di saat misa HUP memberikan nuansa berbeda dan menebalkan cita rasa keindahan pada jalannya tata perayaan ekaristi. Dengan paduan yang pas dan apik antara cahaya, musik dan drama harapannya tercipta suasana yang memungkinkan setiap umat yang hadir di Misa HUP merenungkan lebih dalam tentang perjalanan perkawinannya. Selanjutnya, buah yang diharapkan adalah kesegaran baru memandang segala bentuk jalan yang sudah dilalui, terutama jalan yang biasa disebut terjal, berkelok, dan licin.

Di dalam khotbahnya, Romo Eduardus Didik Cahyono SJ mengundang perwakilan pasangan untuk sharing pengalaman. Ada satu yang mengesan dan menarik diangkat dalam dialog antara Romo dengan umat saat khotbah. Salah satu pasangan mengatakan, bahwa cinta itu memang bukan hadiah yang tida-tiba ada dan diberikan, melainkan usaha untuk terus menerus mengembangkan dan merawatnya. 

Perayaan Misa HUP benar-benar menjadi perayaan. Sebuah pesta iman yang mengedepankan keberanian dan keterbukaan merasakan cinta. Dari rasa cinta itulah, yang kemudian dibagikan dan dipancarkan sekuat dan sesering mungkin.

Pancaran cinta ini, diwujudkan dengan pesta bersama di halaman gereja. Pesta sederhana dengan ditemani alunan musik keroncong. Pesta  di halaman gereja mengangkat bentuk “Festival Rakyat”. Tema ini menghadirkan suasana santai, ringan, penuh obrolan, guyonan dan kehangatan khas pesta rakyat. Hidangan bakso, nasi ayam, wedang ronde, dan kacang rebus serta pisang rebus menegaskan bahwa inilah suasana yang dialami setiap pasangan kala berpacaran. Memang, keinginan panitia menghadirkan kembali  memori saat pacaran, sebuah kenangan kala setiap pasangan melihat keindahan di mana saja.

Setiap bara harus dijaga, setiap rasa cinta perlu dirawat. Beginilah cara Gereja St. Theresia Bongsari Semarang mengajak setiap umatnya untuk terus menyegarkan komitmen dan janji yang sudah diucapkan kala menikah dulu. Untuk tahun 2019 ini, Lingkungan Paulus Miki menjadi panitia Misa HUP. Dukungan penuh didapatkan dari Lingkungan Petrus Kanisius, Lingkungan Fransiscus Borgias dan Lingkungan Yohanes Berchman. Tentunya dukungan penuh pula dari Dewan Harian Paroki Santa Theresia Bongsari.

(Nara/2019)


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *