Pada suatu kesempatan silahturahmi,  Ketua PHDI (Parisada Hindu Dharma Indonesia) Kota Semarang, I Nengah Wirta Darmayana  mengungkapkan, “Kami sangat terkesan dengan lingkungan Gereja St Theresia Bongsari yang asri dengan pepohonannya yang rindang. Suasana sejuk dan segar ini semakin nyaman karena sambutan saudara-saudara kami dari Gereja Bongsari yang ramah sehingga mempercepat keakraban di antara kami,”. Kesan I Nengah  Wirta meneguhkan apa yang menjadi upaya bersama umat Paroki Bongsari untuk menjadikan Gereja yang bersahabat dengan lingkungan hidup dan semua orang dari berbagai golongan. Pada kesempatan ini, kami mengajak pembaca untuk menyusuri ruang-ruang di kawasan Gereja Bongsari seraya mensyukuri rahmat perjumpaan, persaudaraan dan buah-buah iman.

Bila anda berkunjung ke Gereja St Theresia Bongsari Semarang, anda akan menyaksikan pohon beringin rindang dan banyak pepohonan yang lain mengitari kawasan Gereja. Suasana sejuk akan terasa memberi kesegaran di tengah suasana kota yang panas. Memasuki halaman Gereja, anda akan menjumpai Patung Santa Theresia terletak di hamparan lantai yang posisinya agak lebih tinggi dari permukaan halaman. Umat Paroki Bongsari biasanya menyebutnya Plaza Santa Theresia. Di tempat inilah, berbagai kegiatan Gereja dan kemasyarakatan sering diselenggarakan. Para sahabat dari komunitas Persaudaraan Lintas Agama (PELITA) Kota Semarang merasa nyaman berkegiatan di tempat ini. Kadang di antara mereka, Plaza Santa Theresia disebut juga sebagai Plaza Perdamaian. Berhiaskan Salib yang terbuat dari botol plastik dan rindangnya pohon beringin, memberi kesan eksotis untuk panggung alam yang terbuka.


Plaza Perdamaian
Plaza Santa Theresia disebut juga sebagai Plaza Perdamaian

Posisinya yang terletak di halaman Gereja dan tepat di depan pintu utama Gereja, Plaza Santa Theresia semakin kuat menampilkan wajah Gereja yang menyampaikan pesan bahwa kegembiraan dan kecemasan orang-orang zaman sekarang, terutama kaum miskin dan siapa saja yang menderita, merupakan kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan Gereja. Gereja mau menjadi setia kawan. Di Plaza Santa Theresia tersebut, umat lintas agama berdoa bersama untuk korban kekerasan di Gereja St Lidwina, korban pengembonan di Sri Lanka, korban bencana alam di Lombok, Sulawesi dan lain sebagainya. Di Plaza Santa Theresia juga, masyarakat kota Semarang merayakan indahnya kebhinekaan dengan menyambut peserta peace train, acara ngopi srawung orang muda lintas agama dan berbagai acara kebudayaan.

Semakin masuk ke kawasan Gereja Santa Theresia Bongsari, anda akan menemukan kesahajaan. Gereja Santa Theresia sebagai bangunan induk tampil sangat sederhana jauh dari keindahan arsitektur yang estetis dan megah. Beberapa orang bahkan berpandangan bangunan Gereja Santa Theresia tampak sangat fungsional sebagai tempat ibadah. Meski tampak sederhana dan fungsional, Perayaan Ekaristi yang diselenggarakan di Gereja ini selalu menyertakan pengalaman-pengalaman hidup yang pantas disyukuri. Banyak perayaan Ekaristi dengan tema-tema khusus menjadi tatapan refleksi seperti misalnya, Misa Peringatan Sumpah Pemuda, Misa Hari Disabilitas Internasional, Misa Peringatan Kemerdekaan Republik Indonesia, Misa Hari Pangan Sedunia dan berbagai misa kreatif lainnya. Dengan demikian, Perayaan Ekaristi menjadi bagian hidup dari umat dan terasa relevansinya. Tata Altar di Gereja ini juga menggunakan tanaman hidup. Tim tata altar seminimal mungkin mengurangi penggunaan bunga potong sebagai bentuk kesadarn ekologis. Gereja ini juga sudah menggunakan alat bantuan teknologi layar proyektor untuk mengurangi penggunaan kertas teks misa. Sejumlah layar dan monitor dipasang untuk menampilkan teks Ekaristi agar  umat tetap dapat terlibat mengikuti jalannya Ekaristi


Ruang Dalam Gereja St. Theresia
Ruang Dalam Gereja St. Theresia

Kesederhanaan bangunan tidak hanya tampak dari Gedung Gereja saja, Gedung pastoralnya juga relatif kecil. Gedung Pastoral hanya terdapat ruang sekretariat, ruang arsip, dua ruangan untuk romo, dua ruangan terbuka, satu aula kecil dan satu aula Santa Theresia yang diperkirakan hanya mampu menampung 150 orang. Ada juga ruangan yang dipakai oleh lembaga Credit Union,untuk memperhatikan kesejahteraan sosial ekonomi warga.

Aula

Di balik kesahajaan Gedung Pastoral, berbagai kegiatan diselenggarakan di tempat ini. Rutin setiap hari Sabtu dan Minggu malam, gedung pastoral ini menjadi tempat latihan bela diri Taekwondo. Anda akan menjumpai pemandangan yang menarik, ibu-ibu berjilbab duduk melantai di teras Gereja menunggui dengan sabar anak-anaknya yang berlatih Taekwondo. Tiga bulan sekali, ruangan terbuka di gedung pastoral itu menjadi tempat orang berbagi kasih dengan berdonor darah. Dua kali dalam setahun, umat Paroki Santa Theresia berbagi kebahagian dengan menyelenggarakan pasar murah bagi masyarakat yang menyelenggarakan Hari Raya Idul Fitri dan Hari Raya Natal. Aula Santa Theresia menjadi tempat yang cukup nyaman untuk mengikuti pentas seni lintas agama, buka puasa bersama, kursus kitab suci, kursus evangelisasi pribadi, kursus spiritualitas Ignatian, pertemuan Wanita Katolik Republik Indonesia, Perayaan Natalan dan Paskahan, pertemuan Ikatan Keluarga Katolik Tuna Rungu (IKKATUR) dan berbagai kegiatan yang mengundang banyak peserta.

Teras Pastoran
Teras Pastoran yang dilengkapi sejumlah kursi dan beberapa meja yang memanjang, sengaja disediakan untuk menyambut tamu-tamu dengan penuh persahabatan

Ada juga bangunan yang letaknya agak di belakang, di antara Gedung Gereja dan Gedung Pastoral, yaitu Bangunan Pastoran. Meskipun bangunan Pastoran agak menjorok ke dalam, Pastoran ini menjadi tempat perjumpaan yang menyenangkan. Teras Pastoran yang dilengkapi sejumlah kursi dan beberapa meja yang memanjang, sengaja disediakan untuk menyambut tamu-tamu dengan penuh persahabatan. Guru-guru Agama Islam dampingan Wahid Foundation, Mahasiswa-mahasiswi IAIN Kudus, pengurus Jemaah Ahmadiyah Indonesia pernah berkunjung dan melakukan pembicaraan dengan santai serta penuh persaudaraan sambil menikmati  hidangan yang disajikan. Tanaman-tanaman pot, air  kolam ikan yang bening, gemericik suara air kolam menjadikan orang kerasan untuk berlama-lama berbincang dan bersendau gurau. Kini, pastoran tersebut menjadi tempat tinggal Romo Eduardus Didik Chahyono SJ selaku Pastor Kepala Paroki, Romo. Redemptus Hardaputranta, SJ, Romo Agustinus Sarwanto SJ,  Romo. Bonifasius Melkyor Pando, SJ dan Romo Agustinus Mintara SJ. Para Romo ini hidup bersama dan bekerja sama untuk melayani umat Paroki Bongsari yang berjumlah sekitar 4500 jiwa.

Di sudut area gereja, bagian sisi bagian Barat, terdapat juga bangunan terbuka yang dinamai Earth Worship. Bangunan yang berdampingan dengan Taman Doa Maria ini, mengingatkan umat untuk memperhatikan Ibu Bumi. Tempat yang jauh dari keramaian ini harapannya menjadi ruang perjumpaan batin untuk selalu memperhatikan kondisi Bumi, rumah kita bersama. Setiap minggu Paskah kedua, Paroki Bongsari selalu melakukan kegiatan yang didedikasikan untuk menjaga dan merawat lingkungan hidup. Melalui berbagai kegiatan pembinaan persiapan komuni pertama, dan persiapan penerimaan sakramen penguatan, generasi muda selalu diajak untuk akrab dan peduli pada lingkungan hidup.

Area Earth Worship
Area Earth Worship

Gereja Santa Theresia yang bersahaja ini telah menjadi inspirasi bagi umat Paroki St Theresia Bongsari untuk aktif terlibat dalam hidup menggereja maupun dinamika bermasyarakat. Semangat Santa Theresia kanak-kanak Yesus selalu menginspirasi umat untuk memperhatikan orang-orang miskin. Hal ini tampak dengan penggunaan dana papa miskin yang disediakan untuk memberi beasiswa bagi para murid SD Kanisius Cabean, SD Kanisius Kurmosari, dan SMP Ekarini yang ekonomi keluarganya berkekurangan. Prioritas pelayanan bagi yang termiskin tampak juga dalam pembangunan rumah bagi keluarga yang tidak mampu. Sejak tahun 2017-2018 tidak kurang 4 rumah telah dibantu proses pemugaran total sehingga tempat tinggalnya menjadi lebih layak. Di sejumlah lingkungan, umat juga berinisiatif membentuk unit sosial untuk memperhatikan siapa saja yang membutuhkan pertolongan.

Di Paroki Bongsari, ada sejumlah orang Katolik yang aktif terlibat sebagai pengurus RT, ikut rapat RT dan kegiatan-kegiatan di RT. Berkat keterlibatan umat Katolik di tengah masyarakat inilah yang tentunya menjadikan Gereja atau sebuah Paroki bisa berinteraksi secara sehat dengan warga. Karena pada dasarnya yang disebut Gereja itu bukan saja sebentuk bangunan  namun lebih dari itu yang disebut Gereja adalah umat Allah, jemaat, atau manusia-manusianya. Dengan demikian keberadaan Gereja di tengah masyarakat merupakan suatu kewajaran karena Gereja sendiri adalah bagian dari warga masyarakat.

Pantaslah kita bersyukur atas penyertaan Allah yang Mahabaik bagi Paroki Bongsari. Ada banyak pribadi yang terlibat dalam dinamika hidup menggereja. Keterlibatan umat dan masyarakat menjadi tanda bahwa kehadiran Gereja Bongsari menjadi berkat bagi sesama manusia dan alam semesta. Kasih yang telah dialami oleh paguyuban umat beriman di Paroki Bongsari ini sudah semestinya dibagikan kepada sesama. Dalam suasana hati Gembira,  umat Paroki Bongsari berjalan bersama menghayati indahnya paguyuban murid-murid Tuhan Yesus.

Gereja St Theresia Bongsari berusaha aktif mewujudkan Gereja yang inklusif, inovatif dan transformatif guna mewujudkan peradaban kasih. Dengan arah ini, Paroki Bongsari mengajak seluruh umat dari yang dewasa, orang muda dan anak anak  di lingkungan untuk terlibat aktif dalam berbagai kegiatan di gereja dan masyarakat sesuai dengan talenta-talenta masing-masing. Gereja Santa Theresia Paroki Bongsari berusaha selaras dengan gerak Kesukupan Agung  sesuai dengan ARDAS 2016-2020 KAS. Intinya gerak pastoral Paroki Bongsari bertujuan mewujudkan cita-cita RIKAS 2016-2035 yaitu Terwujudnya Peradaban Kasih dalam Masyarakat. Gereja Santa Theresia Bongsari ingin menjadi Lumen Gentium, terang bagi umat manusia. Dalam segala pergulatan yang dialami bangsa-bangsa, harapannya Gereja dapat memberi inspirasi bagi masyarakat. Selain memperhatikan komunitas Katolik di lingkungan, Paroki Bongsari berupaya untuk memperhatikan pelestarian keutuhan ciptaan, gerakan lintas agama dan semakin bermasyarakat agar menjadi sejahtera, bermartabat dan beriman.

Di usianya yang lebih dari 50 tahun, Gereja ini sangat berakar di tengah masyarakat. Pengurus Gereja selalu mengingatkan para Romo yang bertugas silih berganti untuk berinteraksi dengan masyarakat. Sampai saat ini, umat Paroki Bongsari masih terus melanjutkan berbagai cara yang memungkinkan Gereja untuk hadir di tengah masyarakat yang plural, baik lingkup lingkungan sekitar daerah sini maupun lingkup yang lebih luas.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *