Sejarah Paroki

Pada awal mula, daerah Banjir Kanal Barat adalah bagian tak terpisahkan dari Paroki Katedral Randusari Semarang. Di daerah ini terdapat sejumlah umat katolik yang tersebar di beberapa wilayah, antara lain wilayah Krobokan, Karangayu, Kalibanteng, Krapyak, Cabean, Panjangan, Barusari, Demangan, Gisikdrono, dan Penggiling.

 

Pertambahan jumlah umat katolik, makin bertambah pesat. Untuk mengimbangi pertambahan jumlah umat katolik, perlu diimbangi pula dengan pertambahan areal untuk kehidupan dan perkembangan umat katolik di masa yang akan datang. Tindakan nyata telah dilakukan. Pastor Yustinus Darmojuwono Pr. Kepala Paroki Katedral Randusari Semarang saat itu segera meninjau sebidang tanah di kelurahan Bongsari yang disediakan seluas empat setengah hektar untuk membangun gedung gereja baru. Tindakan ini dilakukan setelah mendapat restu Uskup Agung Semarang Mgr. Albertus Soegijapranata SJ. (+) Pembangunan gedung gereja baru ini, merupakan langkah tepat untuk memisahkan wilayah Banjir Kanal Barat dari Paroki Katedral Randusari Semarang untuk dapat menjadi Paroki baru yakni Paroki Gereja St. Theresia Bongsari Semarang. Selain gedung juga dibangun gedung biara susteran ordo Theresianum.

 

Beberapa pakar pembangunan gedung saat itu sulit untuk dihapuskan dari sejarah Paroki Bongsari. Mereka adalah Ir. Oei Ging Kie, Ir. Ars. Sidharta dan Ir. Ars. Haditirta serta diperkuat tim pembangunan Keuskupan Agung Semarang pimpinan Hadiwijaya (Tjan Djie Tong). Pembangunan dimulai pada tahun 1963 sampai dengan tahun 1967. Biaya untuk membangun gedung gereja sebagian diperoleh dari seseorang yang mempunyai niat untuk menyumbangkan dana bila doanya melalui St. Theresia terkabul. Dan ternyata doanya itu terkabul. Maka diserahkanlah sejumlah dana untuk membangun gedung gereja dan untuk mengabdikan nama seorang santa yang telah ikut andil mengabulkan doa, dijadikanlah Santa Theresia sebagai pelindung gereja baru tersebut.

 

Peristiwa yang selalu kita ingat dan sulit dilupakan adalah peristiwa Gerakan 30 September (G.30S) pada tahun 1965 yang didalangi oleh organisasi politik terlarang PKI. Peristiwa ini dengan paksa seakan menghentikan seluruh kegiatan bangsa Indonesia, termasuk pembangunan gereja St. Theresia Bongsari Semarang.

 

Kendati pembangunan gedung gereja terhenti, namun didorong oleh semangat yang tinggi dari pelaksana pembangunannya, maka jadilah bangunan gereja dan dapat untuk mempersembahkan misa kudus yang pertama pada 3 Desember 1967 oleh Pastor Ingen Housz SJ. bersama sekitar 50 umat katolik. Waktu berjalan terus, maka pada 7 Januari 1968 gedung  gereja St. Theresia Bongsari diberkati oleh Mgr. Justinus Darmojuwono Pr. Uskup Agung Semarang yang telah ditunjuk oleh Paus menggantikan Mgr. Albertus Soegijapranata SJ, yang meninggal karena sakit di negeri Belanda.

 

Dan sebagai Kepala Paroki Gereja St. Theresia Bongsari yang pertama diangkat Pastor Ingen Housz SJ. Sebagai konsekuensi menerima jabatan ini berarti harus berani melaksanakan tugas merintis dan mengembangkan Paroki baru untuk dapat hidup dan berkembang. Tugas ini dilaksanakan dengan penuh penyerahan diri disertai disiplin tinggi yang diterapkan kepada seluruh umat ketolik se paroki. Seluruh hidup dan segala kekayaan yang dimiliki termasuk harta warisan dari keluarga di Negeri Belanda sejumlah tujuh belas ribu Gulden digunakan untuk keperluan gereja.

 

Maka dilengkapilah gedung gereja dengan peraltan yang sesuai dengan selera Pastor Ingen Housz SJ. Lampu – lampu penerangan dari neon tergantung di atas kepala umat yang mengikuti misa kudus dibuat sedemikian rupa sehingga nampak bagaikan sinar bulan, sehingga terasa sejuk membuat peserta misa kudus dapat berdoa secara khusuk. Dilengkapi pula dengan Orgel, Loudspeaker, Microphone, tabernakel, bangku-bangku untuk umat yang duduk mengikuti misa kudus tanpa tempat untuk berlutut. Lonceng gereja cukup dibuatkan rekaman kaset tape recorder dan suaranya disalurkan melalui loadspeaker agar terdengar keras oleh seluruh umat bagaikan lonceng asli. Orgel dan paduan suara yang bertugas mengiringi misa kudus tidak berada di dekat Altar tetapi di pojok belakang bagian kanan. Bila dalam bertugas mengiringi misa kudus ini salah, langsung mendapat marah dari Altar. Pribadi keras Pastor Ingen Housz SJ. menghendaki setiap petugas tidak boleh salah dalam bertugas melayani misa kudus. Bila salah pasti kena marah. Petugas lektor harus sudah siap 15 bmenit sebelumnya, lebih dari waktu yang ditetapkan tidak boleh melaksanakan tugas. Sikap tegas dan disiplin keras itulah yang akhirnya menjadi Paroki gereja St. Theresia Bongsari Semarang maju pesat.

 

Sangat disayangkan Pastor Ingen Housz SJ tidak bertugas sampai lama. Sikap keras dan tegas serta disiplin tinggi Pastor Ingen Housz SJ. masih segar dalam ingatan bagi umat katolik yang pada saat itu ikut berkarya bersama Pastor Ingen Housz SJ. di Paroki St. Theresia Bongsari Semarang. Beliau kinin telah tiada dan telah berada di sisi Tuhan yang maha penyayang. Bagaimanapun juga jerih payah dan karyanya untuk mengambangkan Paroki gereja St. Theresia Bongsari Semarang tak akan dilupakan. Sewindu beliau berkarya. Sewindu pula pengetahuan iman umat bertambah.

 

Terhitung mulai tanggal 1 Maret 1975 datanglah Pastor F. Pranata Widjaya SJ. yang telah siap untuk menggantikan tugas Pastor Ingen Housz SJ. berdasarkan penugasan yang diberikan oleh Uskup Agung Semarang. Langkah pertama yang dianggap tepat oleh Pastor F. Pranata Widjaya SJ. dalam menjalankan tugasnya adalah meremajakan dan mengganti Dewan Paroki serta pengurus wilayah. Beberapa perubahan yang dianggap lebih praktis dilaksanakan. Sikap keras dan disiplin tinggalan pastor terdahulu tetap diteruskan. Sampai pada akhirnya jatuh pada peringatan satu dasa warsa Paroki gereja St. Theresia Bongsari Semarang pada 7 Januari 1978.

 

Peringatan ini ditandai dengan beberapa kegiatan, antara lain Rekoleksi untuk umat di seluruh wilayah. Peserta rekoleksi terdiri ibu-ibu, mudika dan bapak-bapak, dalam waktu yang terpisah. Pembimbing rekoleksi terdiri Pastor F. Pranata Widjaja SJ. Sr. Laurentia, PI. Sr. Vitalis PI. dan Sr. Andriyani OSF. Beberapa anggota umat yang ikut terlibat sebagai pembimbing rekoleksi antara lain, Ch. W. Drajat beserta ibu Juwarno dan Sukirman.

 

Kegiatan di gereja dalam bentuk Novena dengan tema “Hidup Menggereja”. Pembimbing novena terdiri dari Pastor Koelman SJ. dengan tema “Motivasi tema”, Sr. Andriyani OSF. “Mendengarkan dan menghayati panggilan masing-masing”. Pastor Sumantoro Pr. “Mensukseskan pengabdian melalui organisasi masing-masing”. Sr. Melani PI. “Mengrasulkan dalam masyarakat melanjutkan karya Kristus”. Petugas dari PIKAT “Persatuan dan kesatuan di antara umat seiman”. Pastor Budi Santoso MSF. “Sosial Ekonomi” Sr. Laurentia PI. “Pertanggungjawaban umat terhadap paroki” dan sebagai penutup Vikjen KAS “Penghayatan kitab suci dalam hidup sehari-hari”.

 

Sekain kegiatan rohani juga dilaksanakan kegiatan fisik berupa pertandingan olahraga volley, tenis meja, catur, bazaar, paduan suara, membaca kitab suci dan lomba untuk anak-anak meliputi menggambar, menyanyi dam wicara si buyung. Berhubung kesulitan dana, pembangunan gedung gereja tidak begitu nampak ada perubahan.

 

Pantas dicatat dalam masa ini adalah adanya kegiatan penitipan kanak-kanak yang menderita akibat masa paceklik di daerah Purwodadi, Grobogan. Aksi ini dikoordini oleh Pastor Stormmesant SJ bekerjasama dengan Yayasan Sosial Sugijapranata Semarang. Jumlah anak yang berhasil dititipkan kepada keluarga-keluarga di Paroki Bongsari sejumlah 51 orang anak. Mereka dibagi dalam wilayah-wilayah Bojongsalaman3, Bongsari Timur 11, Bongsari Barat 6, Cabean 2, Demangan 3, Gisikdrono 6, Karangayu 2, Krobokan Utara 11, Krobokan Selatan 5 dan Pusponjolo Barat 2 orang anak.

 

Pada masa jabatan Pastor Paroki F. Pranata Widjaja SJ, masih diakui eksistensi Pengurus Gerja dan Papa miskin (PGPM) dengan pengurus F. Pranata Widjaja SJ, sebagai Ketua merangkap Bendahara, JB Soesilo Oemar sebagai sekretaris dan RJ. Soemijodo (Almh), VM Soekemi serta AK Warso Siswojo masing-masing sebagai anggota.

 

Tidak lepas dari segala kekurangan dan kelebihan sebagai manusia biasa, Pastor F. Pranata Widjaja SJ, sudah ikut andil dalam kehidupan dan perkembangan Paroki Bongsari Semarang. Tidak lama setelah berlangsung peringantan Dasa Warsa Paroki Bongsari Semarang beliau harus pindah melaksanakan tugas di Paroki Klepu Yogyakarta.

 

Dan datanglah Pastor S. Binzler SJ, menggantikan Pastor F. Pranata Widjaja SJ, sebagai Pastor Kepala Paroki Bongsari yang baru. Setelah bebrapa saat adaptasi, mulailah gerak-gerak perlahan tapi pasti untuk mulai membenahi Paroki Bongsari Semarang. Koordinasi dan konsulidasi dengan bebrapa pengurus Dewan Paroki dilaksanakan.

 

Untuk berkarya di tempat yang baru, langkah pertama yang dilakukan Pastor S. Binzler SJ, adalah perlu mengetahui berapa luas Paroki Bongsari Semarang. Agar dapat secara bebas berkunjung dari rumah ke rumah Umat katolik, maka dibelilah sebuah sepeda. Dengan naik sepeda dan mengenakan topi laken sebagai penutup kepala, keliling ke seluruh pelosok paroki Bongsari Semarang. Sehingga dapat diketahui secara pasti jarak dan tempat yang perlu mendapat perhatian. Dengan melaksanakan kegiatan ini, hampir seluruh rumah umat katolik di lingkungan Paroki Bongsari pernah dikunjungi kendati hanya bebrapa menit. Usaha ini menimbulkan kesan rasa dekat dihati antara gembala paroki dengan umatnya.

 

Langkah selanjutnya, mengusahakan perkembangan Paroki Bongsari Semarang. Terutama dalam segi fisik telah melakukan, pertama meletakkan batu pertama dan membantu pelaksanaan pembangunan gedung gereja “St. Ignatius” di wilayah Krapyak Utara. Kedua, meletakkan batu pertama dan membantu pelaksanaan pembangunan gedung gereja “St. Martinus” diwilayah Krobokan Utara. Ketiga, meletakkan batu pertama dan membantu pelaksanaan pembangunan gedung gereja “St. Agustinus” di wilayah Panjangan. Selain itu juga berhasil membangun pendopo pasturan yang dapat digunakan untuk balai pertemuan dan rapat-rapat. Juga berhasil membangun menara lonceng namun sampai selesai pada pelaksanaannya sudah harus pindah ke Tangerang. Dan diteruskan oleh Pastor Martadihardja SJ. Yang pada akhirnya diresmikan pula oleh pastor S. Binzler Sj., yang datang secara khusus ke Semarang.

 

Perkembangan dari segi non fisik dan lebih bersifat liturgis, antara lain melaksanakan prosesi dalam acara minggu palem dengan memperagakan Yesus menaiki kuda diiringi seluruh umat dengan melambaikan daun paelm. Dalam acara “Kamis Putih”, selalu nelakukan pembasuhan kaki kepada 12 orang umat sebagai lambang murid Yesus. Setiap hari “Jum’at Agung” menjelang “Sabtu Paska” diadakan peragaan jalan salib dan diakhiri dengan acara ritual “penyalipan Yesus” dibukit Bongsari Semarang. Pada malam Paskah berhasil menyelenggarakan upacara Paskah semalam suntuk dengan cara memperagakan isi Kitab Suci yang disajikan oleh perwakilan wilayah atau lingkungan se Paroki Bongsari Semarang. Tak dapat dilupakan adalah tindakan pembinaan iman kepada seluruh anggota prodiakon serta aktivis gereja lainnya. Betapapun keberhasilan seorang pastor mengembangkan sebuah paroki, namun tidak ada aturan untuk menetapkan seorang pastor untuk berkarya di sebuah paroki selama hidup. Hal ini dirasakan juga oleh pastor S. Binzler SJ. Kendati sudah berhasil menjadi warga Negara Indoneisa dan berganti nama dengan S. Bintarto SJ, namun harus pindah ke Tangerang untuk melaksanakan karya ladang Tuhan yang baru.

 

Sebagai pengganti yang baru datanglah Pastor A. Martadiharja SJ. Kendati pastor yang sudah mendekati usia senja itu tidak banyak melakukan banyak perubahan bagi paroki Bongsari Semarang, namun ada kegiatan yang pantas dicatat dalam sejarah adalah usaha mengadakan kunjungan kepada seluruh umat di semua lingkungan. Selain memberkati rumah yang dikunjungi, juga memberikan berkat dengan tanda salib di dahi kepada seluruh keluarga yang mendiami rumah itu. Setelah seluruh keluarga di lingkungan dikunjungi diadakan misa bersama. Kegiatan ini ternyata sangat berkesan bagi umat karena merasa diperhatikan oleh gembala parokinya. Belum sempat melaksakan kegiatan yang lain, sudah terlebih dahulu ada tugas untuk melaksanakan karya gereja di tempat lain.

 

Selanjutnya paroki Bongsari Semarang ditumbuh kembangkan oleh Pastor Orie SJ, bersama pastor V. Suryatma Suryawiyata SJ, dan pastor Y. Mardi Widayat SJ. Di Paroki Bongsari Semarang, kini ada tiga orang pastor. Bagaikan tiga serangkai dengan potensi yang dimiliki oleh masing – masing pastor dicurahkan sepenuhnya untuk kemajuan Paroki Bongsari Semarang. Terlebih dengan peringatan pesta perak bagi paroki Bongsari Semarang, seluruh pikiran dan tenaga dicurahkan bersama seluruh umat khususnya panitia pesta perak Gereja St. Theresia Bongsari Semarang, yang semuanya bertujuan agar peringatan pesta perak ini sukses. Semoga seluruh umat paroki Bongsari Semarang selalu mendapatan curahan rahmat dari Tuhan, agar selalu mendapat terang dan kekuatan iman untuk dapat lebih berkarya demi kepentingan gereja dan paroki Bongsari di masa yanng akan datang.

 

Beberapa nama iman, biarawan dan biarawati yang pantas dicatat dalam sejarah karena pernah ikut andil dalam mengambangkan Paroki Gereja St. Theresia Bongsari Semarang adalah Pastor C. Looymans SJ; Pastor J. Stormmesand SJ; Pastor Ch. Prawiro Suprapto SJ; Suster Laurentia PI; Pastor Am. Iwan Murjoko SJ dan Frater Robert Ramone CsSR.

 

Demikianlah sejarah Gereja St. Theresia Bongsari Semarang yang disusun berdasarkan ingatan yang sangat terbatas. Tentu saja masih banyak kekurangan dan kealpaan. Oelh karena itu sungguh pantas dan layak bila penyusun menyampaikan “ampunilah kesalahan kami, seperti kamipun mengampuni kesalahan para pembaca yang mungkin bersalah kepada kami”.                                                 

Penulis: VM. Soekemi