Santo Ignatius Loyola, pendiri Serikat Yesus.

Dari Inigo ke Ignatius

Pengantar

Autobiografi St. Ignatius Loyola lebih ingin menunjukkan bagaimana relasi yang terjadi antara dirinya dengan Allah. Karena itu riwayat yang hendak disampaikan di sini adalah riwayat hidup rohaninya.

“Dari Inigo ke Ignatius” menampilkan peziarahan batin Ignatius yang dibimbing Allah dalam hidupnya. Secara singkat, Inigo mewakili seluruh pengalaman Ignatius sebelum pertobatannya. Sementara Ignatius, nama yang dipakainya sejak di Paris, memperlihatkan hidup baru Inigo yang telah mengalami pertobatan dan perubahan orientasi hidup kepada Allah. “Dari Inigo ke Ignatius” hendak menekankan peristiwa ALlah membimbingnya dan segala daya upayanya menanggapi bimbingan Allah tersebut.

Nama asli St. Ignatius Loyola adalah Inigo Lopez de Onaz y Loyola. Inigo lahir pada tahun 1491 di kota Azpeitia provinsi Guipúzcoa, Spanyol, dari pasangan Beltran Ibanez de Onaz y Loyola dan Marina Sanchez de Licona y Balda. Dia adalah anak bungsu dari 13 bersaudara. Ibunya meninggal saat ia masih bayi. Zaman Inigo hidup (abad XVI) diwarnai dengan aneka hal baru: zaman Renaissance (kembali ke seni dan literatur klasik) dengan tokohnya Leonardo da Vinci (1452-1519), Michaelangelo Buonarroti (1475-1564). Selain itu berkembang pula Filsafat Humanisme (melihat manusia dan rasio sebagai hal yang penting) dengan tokohnya Desiderius Erasmus (1466–1536), Thomas More (1478–1535), Martin Luther (1483-1546).

 

Inigo Muda

Inigo muda (1506-1517) bekerja magang pada seorang bendahara Raja Ferdinand yakni Juan Velazquez de Cuellar di kota Arevalo. Cita-citanya memang menjadi ksatria kerajaan. Dia belajar tentang nilai-nilai feodal seperti: pengabdian, totalitas, mau berbagi dengan sesama, kebanggaan sebagai bangsawan. Dia juga menikmati masa mudanya dalam berlatih sebagai pemain pedang, membaca buku-buku roman, dan mengejar wanita bangsawan. Inilah hidup yang diimpikannya: turnamen naik kuda dengan rompi baja dan tombak, berburu, perselisihan yang diselesaikan dengan duel, menikmati pertunjukan, judi dan bermain perempuan. Inigo tak pernah berdoa kepada Bunda Maria begitu khusyuk selain kalai akan menghadapi duel. Di Arevalo, bibinya, Maria Velasco, mengingatkannya, “Inigo, kamu tidak pernah akan belajar menjadi bijaksana sebelum seseorang mematahkan kakimu.” 

Autobiografi 1. Sampai umur 26 tahun dia seorang yang hanya memikirkan permainan duniawi, dan kesenangan pokoknya adalah latihan senjata dengan keinginan besar mau memperoleh kehormatan.

Setelah Juan Velazquez de Cuellar meninggal Agustus 1517, Inigo mengabdikan diri pada Antonio Manrique de Lara, pangeran Najera (Navarre) sebagai seorang ksatria. Mereka menduduki Pamplona, kota kecil perbatasan antara Perancis dan Spanyol. Tahun 1521 Raja Perancis memutuskan untuk menyerang Spanyol dari Navarre. Pasukan besar Perancis menyerang 1 km dari benteng kota Pamplona, ibu kota Navarre. Penduduk Navarre tidak mau berperang melawan Perancis. Mereka lari menghindar. Pangeran Najera mengirimkan 1000 tentara untuk mempertahankan benteng kota, dan Inigo ada bersama mereka. Pasukan Perancis menyerang benteng Pamplona 19-24 Mei 1521.

Perang di Pamplona berlangsung kira-kira enam jam dan dimenangkan pihak Prancis. Sebuah tembakan meriam menghancurkan kaki Inigo. Inigo yang terluka diperlakukan dengan baik. Inigo lalu dibawa ke Loyola dengan gerobak dan setibanya di puri Loyola, ia diberi pengobatan. 

Autobiografi No.3 “Keadaannya semakin buruk; ia tidak dapat makan, dan ada gejala-gejala yang biasanya merupakan tanda-tanda orang akan mati. Mejelang hari raya St. Yohanes, para dokter tidak punya banyak harapan lagi bahwa ia dapat selamat. Mereka mengajurkan supaya inigo menerima sakramen tobat. Setelah menerima sakramen orang sakit, pada vigili St. Petrus dan Paulus, para dokter berkata bahwa kalau sampai tengah malam belum ada kemajuan, ia pasti akan mati. Si penderita selalu punya devosi besar kepada St. Petrus, maka Tuhan menghendaki malam itu juga ia mulai merasa lebih baik, kesembuhannya begitu cepat, bahwa beberapa hari kemudian ia dianggap sudah di luar bahaya maut.”

Ketika keadaannya membaik, Inigo melihat bahwa ada daging dan tulang yang menonjol di kakinya. Dia berpikir jangan-jangan ia tidak bisa memakai sepatu dan berjalan tegak sebagaimana seorang ksatria. Inigo kemudian meminta supaya kakinya dioperasi kembali. Ia meminta supaya tulangnya yang salah pasang dioperasi kembali. Dia dioperasi tanpa obat bius. “Inigo mengingat peristiwa itu sebagai sebuah pembantaian yang mengerikan. Bukan demi Allah melainkan demi gengsi dan kesombongan dirinya sendiri” [Lahir untuk Berjuang, 32]. Kakinya dioperasi sampai tiga kali. Berkat Allah yang mencintainya, dari hari ke hari, kesehatan Inigo berangsur-angsur membaik. 

Pendosa yang Dipanggil

Pada saat menunggu proses penyembuhan ini, dia ingin mengisi kesepiannya dengan membaca buku-buku yang menceritakan kepahlawanan para ksatria. Buku yang disukainya adalah buku-buku roman. Sayang, di rumah kakak perempuannya – tempatnya dirawat – tidak ada buku-buku ksatria. Yang ada hanyalah dua buku yaitu Vita Iesu Christi (Kehidupan Yesus Kristus) karangan Ludolph of Saxony dan buku Flos Sanctorum (Kehidupan Orang Kudus) karangan Jacopo de Voragine. Dua buku yang tentu jauh dari yang diinginkannya. Namun, akhirnya dengan perasaan segan dia membaca kedua buku tersebut. Perlahan-lahan dia mulai melamunkan hidup para kudus seperti yang dibacanya.

Cara membaca bukunya cukup khusus: diulang (repetisi) dan dibayangkan. Ia terkesan dengan julukan para kudus: “Para prajurit Allah yang membaktikan diri demi pelayanan kepada Yesus Kristus Raja Abadi.” Karena terang inspirasi Injil mereka gagah berani melawan kejahatan. Ia membayangkan dirinya sebagai St. Dominikus yang berkotbah atau seperti St. Fransiskus yang mengemis. Setelah beberapa saat, lamunan kepahlawanan kembali menguasai pikirannya, menjadi pahlawan dan terkenal, berperang dan bermain pedang, berani terluka demi pengabdian kepada raja. Tak lama kemudian, datang kembali lamunan mengikuti Kristus Raja Abadi sampai ke Yerusalem, bertapa seperti St. Fransiskus dan membebat luka orang miskin di rumah sakit. Demikian kedua macam lamunan itu silih berganti menguasai pikirannya [Aoutobiografi, no. 6-7].

Autobiografi 6. Lain waktu dia berpikir soal hal duniawi dan mengkhayalkan apa yang akan dilakukan dalam pengabdian kepada seorang putri.

Autobiografi 7. Terkadang dia berpikir, “Bagaimana, kalau aku melakukan apa yang dilakukan St. Fransiskus, atau yang dilakukan St. Dominikus?”

Siapa sangka kalau peristiwa “Pamplona” yang mengantarnya membaca dua buku ini menjadi titik awal transformasi hidup Inigo menjadi Ignatius. Ketika membaca dua buku tersebut, muncul berbagai perasaan yang lain. Ketika melamunkan kepahlawanan ksatria selalu diakhiri dengan perasaan kosong, kering disertai kekecewaan. Berbeda dengan lamunan mengikuti Kristus membawa kegembiraan yang mendalam, kesegaran, kepuasan yang tidak hilang-hilang. Ketika meneliti batinnya tersebut, dia mulai bertanya, mungkinkan rasa damai, kesegaran dan kegembiraan yang tak hilang-hilang itu tanda kebenaran dan tanda Allah memanggilnya?

Autobiografi 8. Dia mulai mengenali perbedaan roh-roh yang menggerakkannya: satu dari setan, yang lain dari Allah.

Ignatius mulai berefleksi tentang hal-hal baik. Dia juga mulai belajar membedakan gerak-gerak roh baik dan roh jahat. Dia mulai belajar berdiskresi. Di sisi lain mulai muncul rasa sesal dan dosa atas masa lalunya. Di sisi lain mulai muncul pula gerakan batin untuk membuat silih dengan berziarah ke Yerusalem. Dia ingin melihat tempat-tempat di mana Yesus dulu hidup dan berkarya. Pada saat penyembuhan ini, Ignatius mendapatkan visiun Bunda Maria.

Autobiografi 10. Pada suatu malam, ia tidak tidur. Lalu ia melihat dengan jelas gambaran Santa Perawan dengan Kanak-kanak Yesus. Dari penglihatan itu, ia mengalami penghiburan amat mendalam dalam waktu yang cukup lama. Ia merasa sangat muak terhadap hidupnya yang lampau, khususnya mengenai kehidupan seksnya. 

Ia semakin yakin bahwa ia dipanggil untuk berperang namun bukan untuk melawan musuh sementara, melainkan musuh abadi: kebodohan, ketidakadilan, keserakahan, egoisme, dan segala macam kejahatan yang ada dalam dirinya maupun yang mengancam umat manusia. Ia menemukan panggilannya dan mau mengabdikan diri kepada Raja Abadi. Dia berencana setelah berziarah ke Yerusalem akan menjadi rahib Kartusian. 

 

Ignatius Peziarah

Setelah sembuh, Ignatius memutuskan untuk berziarah ke Yerusalem. Dia pergi mengendarai seekor keledai. Kota pertama yang akan dikunjungi adalah Montserrat. Dia mencari seorang imam Benediktin dan mengadakan pengakuan dosa umum selama 3 hari. Ia mulai melepaskan miliknya. Simbolisasi transformasi diri terungkap dengan mempersembahkan pedang dan menggantinya dengan tongkat peziarah, memberikan pakaian ksatria kepada orang miskin dan memakai pakaian peziarah, melepaskan kuda dan memilih dengan keledai. Pedangnya ia letakkan di bawah patung Bunda Maria di kapel. Selama semalam suntuk ia berdoa di kapel untuk mempersiapkan hidupnya yang baru bagi pelayanan kepada Raja Abadi.

Manresa memang banyak mengubah hidupnya. Di sana Ignatius menjalankan cara hidup ekstrim: berkeliling untuk minta sedekah setiap hari, berpantang daging dan tidak minum anggur – juga tidak mau kalau diberi. Di hari Minggu ia tidak berpuasa dan kalau diberi sedikit anggur, diminumnya. Dia memilih membiarkan rambut dan kukunya panjang; tidak merawat diri, berdoa lama. Seharian dia membantu orang sakit, berdoa tujuh jam sehari, berpuasa dan mengikuti Misa kudus.

Autobiografi 27. Pada waktu itu, Allah memperlakukannya seperti seorang guru sekolah terhadap seorang anak. Ia memberi pelajaran kepadanya. Entah karena dia begitu kasar dan bodoh, entah karena tidak ada orang yang mengajarnya, atau karena kemauan kuat yang diberikan Allah sendiri kepadanya untuk mengabdi kepada-Nya, ia sungguh yakin dan selalu punya keyakinan bahwa Allah memperlakukannya dengan cara demikian. 

Ignatius bertapa tanpa belas kasihan kepada tubuhnya. Ia menyesah diri dengan cambuk dan tidur sedikit di tempat keras tanpa alas. Mula-mula semuanya memberikan kegembiraan. Tak lama kemudian, ia mengalami banyak godaan. Ada rasa takut kalau-kalau ada dosa yang belum diakukan atau kalau ada dosa yang telah ia akukan tapi belum diampuni. Keadaan begitu kalut, menakutkan sampai membuatnya putus asa dan ingin bunuh diri. Situasinya sangat ekstrim bahkan “Ia berkata pada dirinya bahwa tidak akan makan atau minum sebelum Allah memberikan apa yang ingin diperolehnya, atau kalau ia melihat bahwa maut sudah amat dekat” [Autobiografi, 24].

Suatu ketika, seolah-olah Allah membangkitkannya dari mimpi buruk. Semua godaan hilang begitu saja. Ia mulai merefleksikan bagaimana mulai timbul kekalutan dan pikiran jahat dalam benaknya. Ia sadar bahwa ternyata cara hidup keras seperti itu bukanlah kehendak Allah. Hidup matiraga tanpa ampun ternyata hanyalah buah pikirannya sendiri. Dengan melakukan lakutapa seperti itu ia ingin memaksa Allah berkenan dan mencintainya. Dia sadar: ia mesti melakukan kehendak Allah dan bukan kehendaknya sendiri. Dengan pengalaman yang direfleksikan, ia semakin menyadari bagaimana Allah bertindak dalam hidupnya dan bagaimana ia mesti menanggapinya.

Ketika sedang duduk di pinggir sungai Cardoner, sebuah sungai dekat biara di Manresa yang setiap hari dikunjunginya, ia mendapat visiun. Budinya diterangi sehingga memahami secara mendalam kebenaran iman, masalah kerohanian dan hubungan antara iman dan pengetahuan. Ia mendapatkan penerangan bagaimana Allah menciptakan alam semesta dan bagaimana Ia hadir dalam ciptaan-Nya. Sejak pengalaman itu, Ignatius berusaha tampil normal: memelihara kuku, rambut, dan seluruh dirinya. Ia meninggalkan praktek puasa dan pantang yang berlebihan. Ia jauh lebih bijaksana dan maju dalam kerohanian. Dia mulai melayani jiwa-jiwa, memberi kotbah dan katekese. Ignatius didatangi banyak orang untuk dimintai nasihat rohani. Ignatius mulai menulis buku Latihan Rohani, yang baru akan diterbitkan kemudian di tahun 1548.

Setelah tinggal di Manresa selama 1 tahun, akhirnya Ignatius meneruskan perjalanan ke Barcelona untuk mencari kapal ke Yerusalem di awal tahun 1523. Barangkali bisa dikatakan bahwa dia memang amat obsesif ke sana. Di Yerusalem, Ignatius bertemu dengan pembesar Ordo Fransiskan dan mengemukakan niatnya untuk tinggal di Yerusalem. Pembesar itu menolaknya. Ignatius tak mengurungkan tekadnya. Dia mengunjungi tempat-tempat di mana Yesus dulu hidup dan berkarya. “Setelah si peziarah mengetahui bahwa Allah tidak menghendaki ia tinggal di Yerusalem, ia terus berefleksi dan berpikir apa yang akan dilakukannya (quid agendum). Akhirnya, ia lebih cenderung untuk belajar beberapa waktu supaya dapat membantu orang. Ia mengambil keputusan untuk pergi kembali ke Barselona” [Autobiografi, 50].

Demikianlah, jika dari Loyola, Ignatius keluar sebagai seorang peniten yang mulai menjalankan laku rohaninya dengan bermacam-macam bentuk matiraga dan penitensinya, maka dari Manresa ini, dia keluar sebagai manusia baru yang memiliki wawasan rohani rasuli serta kesadaran akan peranan rahmat Allah di jalan hidupnya. Manresa ini kerap kali disebut sebagai “novisiat Ignatius”, karena di sana dia mengalami diajar oleh Allah sendiri; selain itu Manresa ini juga kerap disebut sebagai asal usul Latihan Rohani (di sana Ignatius mulai cermat membeda-bedakan roh) dan tempat munculnya dorongan untuk membantu menyelamatkan jiwa-jiwa (ayudar a las almas). Dalam kaitannya dengan Latihan Rohani, pengalaman Manresa ini bisa disebut yang melahirkan permenungan mengenai “Panggilan Raja” dan “Dua Panji”. Selain itu ada beberapa hal yang bisa dijelaskan kemunculannya di Manresa, misalnya praktek pembedaan roh, sikap-sikap rohani serta praktek askese.

            Selama sebelas bulan berada di Manresa, Ignatius menjadi pelaku Latihan Rohani yang pertama. Pengalamannya menandai langkah transformatif dari seorang pendosa yang bertobat, mengalami peziarahan hidup menanggapi setiap bisikan panggilan Allah lewat segala jatuh bangun, menjadi seorang rasul yang digerakkan oleh kobaran semangat melayani Tuhan dan membantu jiwa sesama.

 

Masa Studi

Belajar adalah sarana untuk membantu menyelamatkan jiwa sesama. Di Barselona, Ignatius memulai peziarahannya membantu jiwa-jiwa. Di sana, dia mulai studi tetapi belum banyak membentuk dan membekali dirinya. Ignatius meninggalkan Barselona dan pada tahun 1526 pergi ke Alcala untuk belajar Filsafat selama satu setengah tahun. Di sana dia juga mulai memberikan pelayanan kerohanian. Namun dia mendapat tentangan dari inkuisisi gereja (pemeriksaan – biasanya berhubungan dengan hal bidaah). Mereka berkeberatan jika seorang yang tidak belajar teologi dan bukan imam mengajar agama. Beberapa kali ia harus masuk ke penjara karena dianggap sebagai pengikuti alumbrados.

Ignatius lalu pindah ke Salamanca. Akan tetapi nasibnya tidak lebih baik. Ia merasa telah ditutup pintu untuk membantu orang lain dengan larangan bahwa tidak boleh menentukan dosa besar dan dosa kecil. Di Salamanca dituduh mengajarkan ajaran sesat dan dipenjarakan. Lalu ia pindah ke Paris. Dalam perjalanan ke Paris dari Salamanca Ignatius melewai Barselona. Ignatius bertemu dan menyapa para sahabatnya. Mereka itu selanjutnya orang-orang yang memberi bantuan dana studi Ignatius di Paris. Di Paris Ignatius belajar dengan tekun. Di sana pula ia mencari teman. Kalau pada waktu sebelumnya, para sahabat dan kenalan terkesan datang sendiri, di Paris Ignatius berusaha mencari sahabat-sahabat. Sampai akhirnya di sana dia bertemua dengan Petrus Faber dan Fransiscus Xaverius. Ignatius menyelesaikan Lisensiat Filsafat pada 13 Maret 1533. Dia melanjutkan studi teologi selama 1,5 tahun. Ignatius tidak mendapatkan gelar teologi karena umurnya yang terlalu tua (44 tahun) dan kondisi kesehatannya yang buruk. Selama studi di Paris dia membentuk kelompok dengan 6 sahabat yang telah menjalankan Latihan Rohani Diego Laynez, Petrus Faber, Nicolas Bobadilla, Simon Rodriguez, Alfonso Salmeron, Fransiskus Xaverius.

Tanggal 15 Agustus 1534, ketika berusia 43 tahun, Ignatius bersama 6 sahabatnya mengucapkan kaul di Montmartre untuk menolong jiwa-jiwa, hidup miskin, dan berziarah ke Yerusalem bersama-sama.

 

Ke Yerusalem

Karena sakit, Ignatius disuruh pulang ke Spanyol. Ignatius kemudian berkeliling Spanyol mengunjungi rumah keluarga sahabat-sahabatnya. Perjalanan selanjutnya adalah pergi ke Venezia untuk bertemu dengan teman-temannya untuk pergi ke Yerusalem. Setelah menunggu selama 1 tahun di Venezia, Ignatius bertemu dengan semua sahabatnya. Sambil menunggu adanya kapal ke Yerusalem mereka bekerja dengan orang-orang sakit di rumah sakit.

Teman-teman Ignatius kemudian pergi ke Roma untuk meminta izin Paus untuk berziarah dan izin untuk ditahbiskan sebagai imam. Tanggal 24 Juni 1537, Ignatius dan 5 orang sahabatnya ditahbiskan menjadi imam di Venezia.

Lalu berjalanlah mereka ke Roma. Di akhir bulan November mereka sampai di kota kecil La Storta, 14 km dari Roma. Saat berdoa di sebuah kapel kecil, Ignatius mendapat penampakan Allah Bapa dan Yesus yang sedang memanggul salib. Dia mendengar suara Bapa “Ego tibi Romae propitius ero” (artinya, Aku akan besertamu di Roma) dan suara Yesus “Aku ingin engkau menjadi abdi-Ku”. Ignatius memohon Allah Bapa agar diperkenankan ditempatkan bersama Yesus. Visiun La Storta ini merupakan puncak peneguhan pelayanan Ignatius. Lainez membenarkan vision tersebut, “Kristus memanggul salib, menampakkan diri kepada Ignatius; Bapa kekal yang dekat berkata kepada Putra: “Akum au Engkau menerima orang ini menjadi pelayan-Mu.” Maka Yesus sungguh meenrima dia dengan berkata: “Aku mau engkau melayani kami” [Penampakan di La Storta, Kharisma Ignatius Kharisma Serikat Yesus, 32].

Pada November 1538 Ignatius dkk menghadap Paus Paulus III dan mempersembahkan diri mereka untuk diutus ke manapun Paus menginginkan. Paus menerima tawaran mereka. Di bulan Maret s.d. 24 Juni 1539, Ignatius dan 9 sahabatnya mengadakan pertemuan (deliberatio primorum patrum). Tujuan pertemuan untuk menjawab 2 pertanyaan: apakah mereka akan tetap sebagai satu kelompok? Apakah mereka akan mengucapkan kaul ketaatan kepada salah satu dari mereka yang diangkat sebagai pemimpin?

 

Pembentukan Serikat Yesus

Setelah 3 bulan mempertimbangkan dalam doa, mereka melihat dengan jelas bahwa inilah kehendak Tuhan bahwa mereka akan mendirikan Ordo religius baru, dan mereka akan berkaul ketaatan kepada salah satu dari mereka yang ditunjuk sebagai pemimpin. Ignatius berkewajiban untuk menyelesaikan dokumen pembentukan Ordo. Tugas awal yang diterima dari Paus untuk mereka adalah Laynez dan Faber mengajar Teologi dan Kitab Suci di Universitas La Sapienza, Broet dan Rodriguez diutus ke Siena, Le Jay ke Brescia, Codure ke Velletri, Bobadilla ke Napoli.

Dokumen Pembentukan Ordo mendapat tentangan dari para kardinal karena rumusan Ignatius tentang: tidak adanya ofisi bersama (doa brevir), adanya kaul ke-4 untuk secara khusus taat kepada Paus, dan sudah ada banyak ordo/kongregasi religius. Menghadapi kesulitan yang amat tidak mudah ini ini, Ignatius meminta semua sahabatnya untuk mempersembahkan 3000 misa agar dokumen dapat disetujui. Tanggal 3 September 1539 Paus Paulus III menyetujui secara lisan, dan tanggal 27 September 1540 secara resmi dokumen disetujui Paus.

Setelah Ordo Serikat Jesus secara resmi didirikan, diadakan pemilihan pemimpin umum tanggal 5 April 1541 yang hanya dihadiri 6 orang di Roma. Fransiskus Xaverius dan Rodriguez menuliskan nama dalam amplop tertutup. Selama 3 hari mereka berdoa. Hasil pemilihan tersebut menyatakan semua memilih Ignatius kecuali dia sendiri. Karena Ignatius menolak dilakukanlah pemilihan ulang tapi akhirnya Ignatius terpilih kembali.

 

Ignatius Sebagai Jenderal

Tanggal 22 April 1541 keenam sahabat bersama-sama pergi ke gereja St. Paulus di luar tembok Roma untuk mengucapkan 4 kaul: kemiskinan, kemurnian, ketaatan, dan ketaatan khusus kepada Paus serta janji untuk mengajar anak-anak. Selama 15 tahun Ignatius menjadi Jenderal (pemimpin tertinggi SJ) 1541-1556. Yang paling banyak menyita waktunya adalah menulis Konstitusi SJ dan surat kepada anggota serikat. Lalu pada Februari 1541 Paus memberikan gereja Maria della Strada kepada SJ, yang kemudian menjadi pusat SJ dan novisiat pertama SJ. Di kemudian hari, dibangun gereja Gesu yang lebih besar menggantikan bangunan lama.

Ignatius semenjak muda menderita sakit perut berkepanjangan. Pada musim panas 1556 Ignatius kembali sakit. Dokter memperkirakan bahwa Ignatius tidak dalam keadaan yang membahayakan. Tetapi tanggal 30 Juli siang, Ignatius meminta Polanco, seorang Jesuit yang menjadi sekretarisnya, untuk pergi meminta berkat terakhir dari Paus karena merasa waktunya sudah dekat. Polanco lari ke Vatican, tetapi terlambat untuk meminta berkat dari Paus untuk Ignatius. Dini hari waktu Roma, 31 Juli 1556 di usia 67 tahun, Ignatius meninggal dunia tanpa mendapatkan sakramen orang sakit. Pada saat Ignatius meninggal, SJ sudah memiliki 12 provinsi dengan kurang lebih 1000 anggota. Ada 51 sekolah SJ dan 75 rumah SJ didirikan. Ignatius Ignatius dibeatifikasi oleh Paus Paulus V pada tahun 1609; lalu dikanonisasi oleh Paus Gregorius XV menjadi Santo bersama Santo Franiskus Xaverius tanggal 12 Maret 1622. Pesta peringatannya dirayakan setiap tanggal 31 Juli.    


Oleh: Melkyor Pando, S.J.